KOMUNIKASI KESEHATAN PUSKESMAS CIPARAY MELALUI MEDIA DIGITAL DAN KONVENSIONAL
DOI:
https://doi.org/10.71282/jurmie.v3i8.2513Keywords:
Komunikasi Kesehatan, Media Digital, Media Konvensional, Puskesmas Ciparay, Thomas L. ThompsonAbstract
Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, Puskesmas dituntut mampu memanfaatkan media digital tanpa meninggalkan media konvensional agar informasi kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara efektif. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi komunikasi kesehatan yang diterapkan oleh Puskesmas Ciparay melalui media digital dan konvensional, meliputi bentuk komunikasi yang digunakan, alasan pemilihan media, kelebihan dan kekurangan masing-masing media, serta respons masyarakat terhadap informasi kesehatan yang diterima. Penelitian ini menggunakan Teori Komunikasi Kesehatan dari Thomas L. Thompson (2011) dengan pendekatan kualitatif melalui desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka, dengan petugas Puskesmas Ciparay sebagai informan kunci dan masyarakat sebagai informan pendukung. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, metode, dan waktu, sedangkan analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puskesmas Ciparay menggabungkan komunikasi langsung, seperti penyuluhan, kegiatan Posyandu, dan konsultasi di poliklinik, dengan media digital berupa Instagram, WhatsApp, dan situs resmi, serta media cetak seperti poster, brosur, dan spanduk. Media digital dipilih karena kecepatan, jangkauan luas, dan kemudahan pembaruan informasi, sementara media konvensional tetap dipertahankan untuk menjangkau kelompok lanjut usia dan masyarakat dengan keterbatasan akses internet. Respons masyarakat terhadap kedua pendekatan tersebut secara umum positif, ditandai dengan meningkatnya partisipasi dalam kegiatan kesehatan serta interaksi aktif di media digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi media digital dan konvensional yang disesuaikan dengan karakteristik audiens menjadi kunci efektivitas komunikasi kesehatan di tingkat pelayanan primer.
Downloads
References
Bungin, B. (2011). Penelitian kualitatif: Komunikasi, ekonomi, kebijakan publik, dan ilmu sosial lainnya (Ed. ke-2). Kencana Prenada Media Group.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Dharmawan, Y. A. (2024). Komunikasi kesehatan dalam media sosial (Studi penggunaan media sosial Instagram untuk mendapatkan informasi kesehatan) [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta].
Djurkalem, M., Tamaela, J., Soplanit, C., Souhaly, F., & Nifmaskossu, E. (2024). Komunikasi kesehatan di platform digital: Analisis sistematis efektivitas penyebaran informasi medis melalui media sosial. Jurnal Badati, 3(2), 160–180. https://doi.org/10.38012/jb.v3i2.1392
Elita, F. (2018). Sistem informasi komunikasi Puskesmas menggunakan session initiation protocol berbasis Android (Studi kasus: Puskesmas Dangung-Dangung) [Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau].
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Transformasi kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Khansa, S. L. (2024). Pola komunikasi kesehatan dalam pencegahan stunting pada bayi di Puskesmas Wanasari [Skripsi, Universitas Pasundan].
Kurnia, Y. (2010). Teknik komunikasi petugas kesehatan dalam pelaksanaan program jemput sehat warga (Studi pada Puskesmas Lingkar Barat dan Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu) [Skripsi, Universitas Bengkulu].
Liliweri, A. (2009). Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Pustaka Pelajar.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE Publications.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Ed. Revisi). PT Remaja Rosdakarya.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Notoatmodjo, S. (2010). Promosi kesehatan teori dan aplikasi. Rineka Cipta.
Nutbeam, D. (2008). The evolving concept of health literacy. Social Science & Medicine, 67(12), 2072–2078. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2008.09.050
Ramdhan, A. Z. (2024). Sosialisasi program imunisasi melalui komunikasi kesehatan di Puskesmas Cipeucang [Skripsi, Universitas Pasundan].
Schiavo, R. (2014). Health communication: From theory to practice (2nd ed.). Jossey-Bass.
Setiani, D. Y., & Warsini, W. (2020). Efektifitas promosi kesehatan media video dan leaflet terhadap tingkat pengetahuan tentang pencegahan osteoporosis. Jurnal Kesehatan Holistic, 4(2), 55–67. https://doi.org/10.33377/jkh.v4i2.83
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Suhertusi, B., Desmiwarti, D., & Nurjasmi, E. (2015). Pengaruh media promosi kesehatan tentang ASI eksklusif terhadap peningkatan pengetahuan ibu di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung Padang tahun 2014. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(1), 17–22. https://doi.org/10.25077/jka.v4i1.177
Thompson, T. L., Parrott, R., & Nussbaum, J. F. (Eds.). (2011). The Routledge handbook of health communication (2nd ed.). Routledge.
World Health Organization. (2022). Bending the trends to promote health and well-being: A strategic foresight on the future of health promotion. World Health Organization.
Yin, R. K. (2016). Studi kasus: Desain dan metode (M. Djauzi Mudzakir, Terj.). RajaGrafindo Persada.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Sheila Hafsari, Firman Alamsyah Taufik Robbi, Rodhiyat Fajar Salim (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










